Foto Penyerahan Bantuan Gempa Sumbar di Surabaya

Walikota Surabaya Bambang DH berdialog dengan Ketua Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus

Walikota Surabaya Bambang DH berdialog dengan Ketua Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus

Pada hari Kamis, 22 Oktober 2009, Walikota Surabaya Drs.H.Bambang Dwi Hartono,MPd bersama Ketua DPRD Kota Surabaya H.Wisnu Wardhana yang didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs.H.Sahudi,MPd dan Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Surabaya Ir.Hidayat Syah menyerahkan bantuan dana Rp 500 juta dari Pemerintah Kota Surabaya dan Rp 1,6 miliar uang yang dikumpulkan oleh siswa SD, SMP, SMA, SMK Negeri dan Swasta se Kota Surabaya.

Pada saat itu, secara spontan Ketua Gapensi Jawa Timur, Ir.HM Amin menyumbang Rp 200 juta dan karyawan PD Pasar Surya Surabaya uang Rp 20 juta dan 8 dus pakaian sumbangan dari warga pedagang pasar di Kota Surabaya.

Bambang DH bersalaman dengan Firdaus HB

Bambang DH bersalaman dengan Firdaus HB

Bantuan itu diterima Ketua Umum Gebu Minangf Jatim, Ir.Firdaus HB yang didampingi para pengurus Gebu Minang Jatim, serta disaksikan oleh 100 kepala sekolah dan perwakilan siswa SD, SMP, SMA, SMK se-Kota surabaya.

Pada kesempatan itu, hadir Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat, Buya H.Mas’ud Abidin yang memberikan kesaksian dan informasi terkini tentang suasana pasca gempa bumi di Kota Padang, Kota Pariaman, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten  Agam dan kota serta kabupaten lainnya di Sumbar.

Inilah foto dokumentasi yang dijepret Yousri Nur Raja Agam pada acara penyerahan bantuan dana untuk korban gempa bumi di Sumatera Barat dari warga Surabaya, Jawa Timur tersebut. Acara berlangsung di Rumah gadang Minangkabau di Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya yang merupakan Posko Peduli Gempa Sumbar 2009 yang dikordinasikan oleh Pengurus Gebu Minang Jawa Timur:

Sumbangan Rp 500 juta dari Pemkot Surabaya dan Rp 1,6 miliar dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya

Sumbangan Rp 500 juta dari Pemkot Surabaya dan Rp 1,6 miliar dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya

Gapensi Jatim meberikan bantuan Rp 200 juta

Gapensi Jatim meberikan bantuan Rp 200 juta

Foto bersama: dari kiri, Samsurizal Wk.Ketua Gebu Minang Jatim, Buya H.Mas'ud Abidin, Firdaus HB, Bambang DH, Wisnu Wardhana, HM Amin dan H.Sahudi

Foto bersama: dari kiri, Samsurizal Wk.Ketua Gebu Minang Jatim, Buya H.Mas'ud Abidin, Firdaus HB, Bambang DH, Wisnu Wardhana, HM Amin dan H.Sahudi

Walikota surabaya Bambang DH, menangis saat menyampaikan sambutan penyerahan bantuan dari warga kota Surabaya untuk korban gempa di Padang

Walikota surabaya Bambang DH, menangis saat menyampaikan sambutan penyerahan bantuan dari warga kota Surabaya untuk korban gempa di Padang

Ketua MUI Sumbar Buya H.Mas'ud Abidin saat menyampaikan informasi terkini pasca gempa bumi di Sumbar kepada masyarakat Surabaya, Jawa Timur.

Ketua MUI Sumbar Buya H.Mas'ud Abidin saat menyampaikan informasi terkini pasca gempa bumi di Sumbar kepada masyarakat Surabaya, Jawa Timur.

Firdaus menyampaikan terimakasih kepada warga Kota Surabaya yang memberikan sumbangan, khususnya kepada siswa dan para guru SD, SMP, SMA dan SMK se Surabaya yang berhasil menghimpun dana untuk para korban gempa di Padang Rp 1,6 miliar.

Firdaus menyampaikan terimakasih kepada warga Kota Surabaya yang memberikan sumbangan, khususnya kepada siswa dan para guru SD, SMP, SMA dan SMK se Surabaya yang berhasil menghimpun dana untuk para korban gempa di Padang Rp 1,6 miliar.

Suasana upacara penyerahan bantuan untuk korban gempa oleh warga kota Surabaya melalui Gebu Minang Jatim di Surabaya

Suasana upacara penyerahan bantuan untuk korban gempa oleh warga kota Surabaya melalui Gebu Minang Jatim di Surabaya

Perwakilan siswa didampingi Kabid Pendidikan dasar Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Dra.Eko Prasrtyoningsih mengikuti acara penyerahan bantuan untuk korban gempa di Padang.

Perwakilan siswa didampingi Kabid Pendidikan dasar Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Dra.Eko Prasrtyoningsih mengikuti acara penyerahan bantuan untuk korban gempa di Padang.

Firdaus dikerubungi wartawan yang mewawancarai masalah gempa di Sumbar

Firdaus dikerubungi wartawan yang mewawancarai masalah gempa di Sumbar

Selain menjelaskan tentang gempa di Sumbar, Firdaus juga menjabarkan tentang kerjsama antara Kota Surabaya dengan Kota Padang yang telah diikat dengan MoU kota kembar atau sister city Surabaya-Padang yang dilaksanakan 19 Juli 2009 lalu.

Selain menjelaskan tentang gempa di Sumbar, Firdaus juga menjabarkan tentang kerjsama antara Kota Surabaya dengan Kota Padang yang telah diikat dengan MoU kota kembar atau sister city Surabaya-Padang yang dilaksanakan 19 Juli 2009 lalu.

Para siswa di Surabaya mengharapkan kepada rekan-rekannya di Padang dan Sumatera Barat untuk tetap sabar dan tabah menghadapi cobaan ini.

Firdaus mengatakan, Walikota Padang H.Fauzi Bahar akan menggunakan dana yang disumbangkan siswa-siswa SD, SMP, SMA, SMK se Kota Surabaya Rp 1,6 miliar itu untuk membangun kembali sekolah yang rubuh akibat gempa.

Kalau nanti, hasil sumbangan siswa di Surabaya itu sudah terwujud menjadi bangunan sekolah, Firdaus akan mengajak Walikota Surabaya Bambang DH dan rombongan untuk hadir pada acara peresmian gedung sekolah di Padang tersebut.

Mendapat ajakan demikian, spontan Bambang DH menyambut dengan baik. InsyaAllah, katanya yang saat itu didampingi Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs.H.Sahudi,MPd.

Foto-foto: Yousri Nur Raja Agam.

Kota Surabaya Bantu Korban Gempa Padang

Siswa SD, SMP, SMA, SMK se Kota Surabaya

Menyumbang Kota Padang Rp 1,6 Miliar

SEBAGAI wujud kerjasama dua kota kembar (sister city) antara Kota Padang dengan Kota Surabaya, saat terjadi gempa yang meluluhlantakkan Kota Padang, warga kota Surabaya ikut memberikan bantuannnya.

Rumah Gadang Minang di Surabaya

Rumah Gadang Minang di Surabaya

Perhatian Walikota Surabaya, Drs.H.Bambang DH cukup manakjubkan. Sehari setelah terjadi gempa, langsung  pada tanggal 1 Oktober 2009 melakukan kordinasi dan kerjasama dengan organisasi perantau Sumatera Barat, Gebu Minang Jawa Timur yang berkantor di Surabaya.

Gerakan untuk menghimpun dana dan barang yang akan dikirimkKota Padang dan Sumatera Barat, terjadi di berbagai tempat. Posko utama dipusatkan di Rumah Gadang Minangkabau yang terletak di Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya. Posko ke dua didirikan di halaman Balaikota Surabaya, yang dikordinasikan oleh Bakesbang Linmas (Badan Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat) Kota Surabaya.

Hari Kamis (22/10) Walikota Surabaya Drs.H.Bambang DH menyerahkan bantuan untuk korban gempa di Kota Padang melalui organisasi masyarakat perantau di Surabaya Gebu Minang Jatim.  Sumbangan yang dikumpulkan Dinas Pendidikan dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK baik negeri maupun swasta se Kota Surabaya  mencapai Rp 1,6 miliar.

Bantuan itu ditambah lagi Rp 500 juta dari Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya dan Rp 200 juta dari Gapensi (Gabungan Pengusaha Konstruksi) Jawa Timur.

Acara itu dilangsungkan di rumah gadang Minang Jalan Gayung Kebunsari 64 Surabaya. Walikota Surabaya Drs.H.Bambang DH menyerahkan bantuan dana itu melalui Ketua Umum Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus HB. Disaksikan oleh Ketua DPRD Kota Surabaya Drs.Wisnu Wardhana, Ketua gapensi jatim Ir.HM Amin, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya Drs.H.Sahudi, dan para kepala sekolah se Kota Surabaya.

Hadir pula pada acara itu, Ketua MUI (Majelis Ulama Indonesia) Sumatera Barat, Bbuya H.Mas’ud Abidin yang sekaligus memberikan informasi terkini dari Sumatera Barat. Selain disampaikan secara lisan, Ir.Firdaus yang baru saja kembali dari Madang menyampaikan presentasi dengan memutar video, serta foto-foto akibat gempa melalui layar besar di depan panggung.

Setelah mendengar kesaksian dari Buya Mas’ud Abidin dan Ir.Firdaus, walikota Surabaya tidak mampu menahan rasa sedihnya. Saat menyampaikan sambutan selesai menyerahkan bantuan, ia berkata dengan terbata-bata, bahkan tidak kyat menahan air mata. Walikota Surabaya itu, menangis sesegukan, sehingga membuat suasana menjadi hening. Bahkan tidak sedikit pula hadirin yang ikut mengeluarkan air mata.

Ir.Irdaus menyatakan, bantuan para siswa dari Surabaya itu akan diwujudkan untuk perbaikan sekolah di Kota Padang. Apabila sekolah itu kelak sudah selesai diperbaiki, warga Minang dan Kota Madang mengharapkan kehadiran Walikota dan tokoh masyarakat Surabaya untuk datang ke Padang.

Setelah gempa di Sumatera Barat, 30 September lalu, di Surabaya langsung didirikan tiga posko bantuan bencana kerjasama antara Gebu Minang Jatim dengan Pemerintah Kota Surabaya, serta Pemerintah Provinsi Jawa Timar. Kecuali itu beberapa tempat juga membangun posko peduli yang menghimpun bantuan untuk Sumbar, termasuk Koran Jawa Pos Grup.

Barang-barang itu ada yang dikirim melalui darat, laut maupun udara, Untuk angkutan laut dikordinasikan langsung oleh TNI-AL Komando Armada RI Wilayah Timar (Koarmatim) yang berpusat di Surabaya. Di Madang TNI-AL juga membuka Rumah Sakit (RS) terapung. (yous)

Bantuan untuk gempa di Padang, Sumbar Rp 500 juta dari Pemkot Surabaya, Rp 1,6 miliar dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya

Bantuan untuk gempa di Padang, Sumbar Rp 500 juta dari Pemkot Surabaya, Rp 1,6 miliar dari siswa SD, SMP, SMA dan SMK se Kota Surabaya

**

KOTAKEMBAR PADANG-SURABAYA

SURABAYA — TERHITUNG sejak hari Rabu tanggal 29 Juli 2009, Kota Padang di Sumatera Barat mengikat kerjasama sebagai “Kota Kembar” dengan Kota Surabaya. Ikatan kerjasama itu berlangsung di Balaikota Surabaya, Jalan Taman Surya 1 Surabaya. Walikota Surabaya Drs.H.Bambang Dwi Hartono,MPD menandatangani naskah kerjasama bersama Wakil Walikota Padang H.Mahyeldi Ansharullah,SP.

Walikota Surabaya Bambang DH menandatangani naskah kerjasama antara Surabaya dengan Padang disaksikan Wakil Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Gresik Robbach Ma'sjum

Walikota Surabaya Bambang DH menandatangani naskah kerjasama antara Surabaya dengan Padang disaksikan Wakil Walikota Padang Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Gresik Robbach Ma'sjum

Upacara penandatanganan MoU (Memorandum of Understanding) itu disaksikan 22 staf Pemerintah Kota Padang yang datang bersama wakil walikota Padang ke Surabaya dan pejabat teras Pemerintah Kota Surabaya. Bahkan, acara itu pun disaksikan pula oleh Bupati Gresik, kabupaten yang bertetangga dengan Kota Surabaya. Sebab, bersamaan dengan penandatanganan MoU dengan Kota Padang, Walikota Surabaya juga sepakat bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten Gresik. Kesepakatan itu diwujudkan dengan penadatangan MoU oleh walikota Surabaya dan Bupati Gresik Dr.KH Robbach Ma’sjum.

Wakil Walikota Padang H.Mahyeldi Ansharullah menandatangani naskah kerjasama kota kembar Surabaya-Padang disaksikan Walikota Surabaya Bambang DH dan Bupati Gresik Robbach Ma'sjum.

Wakil Walikota Padang H.Mahyeldi Ansharullah menandatangani naskah kerjasama kota kembar Surabaya-Padang disaksikan Walikota Surabaya Bambang DH dan Bupati Gresik Robbach Ma'sjum.

Kesepakatan kerjasama antara Kota Padang dengan Kota Surabaya ini sebelumnya sudah menjadi kesepakatan antara Walikota Kota Padang, H.Fauzi Bahar dengan Walikota Surabaya Bambang Dwi Hartono.

Sebagai tindaklanjut itulah, diresmikan dalam bentuk upacara resmi. Bidang kerjasama yang disepakati antara Pemkot Surabaya dengan Pemko Padang, antara lain: Penataan kota, industri, perdagangan dan investasi, Teknologi Informasi (TI), Lingkungan Hidup (LH),  Industri maritim, perikanan dan kelautan, serta pendidikan.

Surabaya sebagai kota terbesar ke dua di Indonesia, selama ini sudah banyak mengadakan kerjasama kota kembar (sister city) dengan kota-kota di mancanegara. Kota-kota itu adalah: Seatle di Amerika Serikat, Kochi di Jepang, Busan di Korea Selatan, Izmir di Turki, Perth di Australia, Guangzhow di China, Syah Alam di Malaysia dan dalam waktu dekat dengan Kota Merceile di Perancis. Kota di dalam negeri, baru dengan Jogjakarta dan Kabupaten Sidoarjo, serta Padang dan Gresik. Kerjasama dengan Jogjakarta dan Padang, disebut kerjasama lintas kota, sedangkan dengan Kabupaten Sidoarjo dan Gresik kota bertetangga.

Walikota Surabaya Bambang DH, Wk.Walikota Padang Mahyeldi dan Bupati Gresik Robbach didampingi staf Pemko Padang foto bersama usai penandatanganan naskah kerjasama Sister City Padang-Surabaya

Walikota Surabaya Bambang DH, Wk.Walikota Padang Mahyeldi dan Bupati Gresik Robbach didampingi staf Pemko Padang foto bersama usai penandatanganan naskah kerjasama Sister City Padang-Surabaya

Memang, kata Walikota Surabaya Bambang DH, bentuk kerjasama dengan kota-kota di luar negeri metodanya sama dengan kerjasama lintas kota di dalam negeri. Misalnya, kerjasama antara Surabaya dengan Kochi di Jepang, selain kerjasama di bidang pendidikan, penataan perkotaan, juga yang berkaitan dengan pelabuhan laut.  Bentuk kerjasama seperti ini pula lah yang mungkin dapat dilaksanakan antara Kota Padang dengan Surabaya.

Selain kerjasama antar Wk.Walikota Padang dengan Walikota Surabaya, pada tempat yang sama juga dilangsungkan penandatanganan naskah kerjasama antara Ketua Kadin (Kamar Dagang dan Industri) Kota Surabaya, Dr.Ir.Jamhadi dengan Ketua Kadin Kota Padang Ir.Yendril. Kedua tokoh pengusaha swasta ini sepakat bekerjsama di bidang jasa, perdagangan dan industri.

Ketua Kadinda Surabaya, Jamhadi sedang menandatangani naskah kerjasama dengan Ketua Kadinda Kota Surabaya

Ketua Kadinda Surabaya, Jamhadi sedang menandatangani naskah kerjasama dengan Ketua Kadinda Kota Surabaya

Banyak persamaan antara Padang dengan Surabaya. Kota yang sama-sama dilewati sungai dan sama-sama mempunyai pelabuhan laut. Di Surabaya ada Kali Surabaya, kali Mas, kali Jagir Wonokromo dan sebagainya. Di Padang juga banyak sungai yang disebut Batang Arau, Batang Kuranji dan sebagainya. Pelabuhan di Surabaya bernama Tanjung Perak dan di Padang, Teluk Bayur.

Nah, kata Wakil Walikota Padang, Mahyeldi, bagi Kota Padang yang merupakan kota terbesar di bagian Barat Sumatera, kerjasama ini tentu sangat menguntungkan. Banyak hal yang bisa dipetik dari pengalaman Surabaya selama ini. Kendati Kota Padang sendiri, ujar Mahyeldi sudah sering mendapat penghargaan tingkat nasional, Asean, Asia maupun beberapa tingkat dunia. Untuk itulah, nantinya dengan kerjasama ini antarkota akan saling mengisi.

Ketua Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus HB, usai penandatangan MoU kota Kembar Padang-Surabaya, sempat menyampaikan sambutan sekaligus menyumbangkan lagu untuk pejabat Kota Surabaya, Gresik dan Padang di balaikota Surabaya.

Ketua Gebu Minang Jatim Ir.Firdaus HB, usai penandatangan MoU kota Kembar Padang-Surabaya, sempat menyampaikan sambutan sekaligus menyumbangkan lagu untuk pejabat Kota Surabaya, Gresik dan Padang di balaikota Surabaya.

Salah satu hal yang selama ini cukup menarik, kata Bambang DH dalam kerjasama sister city adalah kerjasama antar universitas di Surabaya dengan perguruantinggi di kotakembarnya. Kerjasama itu, ditindaklanjuti pula dengan pertukaran pelajar, mahasiswa dan karyawan antar kota bersaudara. Para pelajar, mahasiswa dan karyawan dari mancanegara banyak yang melakukan studi banding di Surabaya. Begitu pula sebaliknya, para pelajar, mahasiswa dan karyawan dari Surabaya menimba ilmu di kota-kota bersaudara di luar negeri.

Wk.Walikota Padang H.Mahyeldi didampingi Ketua Gebu Minang Jatim Bidang Humas/Infokom HM Yousri Nur di Rumah gadang Minang, di Surabaya

Wk.Walikota Padang H.Mahyeldi didampingi Ketua Gebu Minang Jatim Bidang Humas/Infokom HM Yousri Nur di Rumah gadang Minang, di Surabaya

H.Mahyeldi menjadi imam di Surau Minang Surabaya

H.Mahyeldi menjadi imam di Surau Minang Surabaya

Dan, masih banyak program yang bisa dilaksanakan sebagai perwujudan kota kembar atau kota bersaudara ini, ulas Bambang DH yang juga disambut oleh Wakil Walikota Padang, Mahyeldi.

Rombongan Pemko Padang, saat berada di Kota Surabaya, sengaja pula mberkunjung ke Rumah Gadang Bagonjong Minangkabau yang terletak di Jalan Gayung Kebonsari 64 Surabaya yang dipimpin langsung oleh Wakil walikota Padang, Mahyeldi. Di sana rombongan disambut oleh Ketua Umum Gebu Minang Jawa Timur Ir.Firdaus HB didampingi Ketua Bidang Humas dan Infokom HM Yousri Nur Raja Agam, Sekretaris H.Marlius Barat Sutan Bagindo Ali dan Sekretaris Eksekutif Herzalius.  

Rombongan pejabat Pemko Padang bersama pengurus Gebu Minang Jatim, foto bersama di depan Surau Minang Surabaya sebelum meninggalkan Kota Surabaya kembali ke Padang

Rombongan pejabat Pemko Padang bersama pengurus Gebu Minang Jatim, foto bersama di depan Surau Minang Surabaya sebelum meninggalkan Kota Surabaya kembali ke Padang

 Bahkan, kesepatan itu, sekaligus dimanfaatkan untuk melaksanakan shalat Zhuhur yang dijamak dengan shalat Asyar di Surau yang terletak di bagian belakang Rumah Gadang.

Rombongan dari Padang, juga diajak berkeliling kota Surabaya, menyaksikan berbagai obyek wisata di Surabaya, di antaranya gedung Sampoernan, pabrik rokok tertua di Surabaya Ji Sam Soe yang sekarang juga dijadikan museum Soerabaia Tempo Doeleo. Tidak hanya itu, rombongan juga berkesempatan melihat dan melintas di jembatan terpanjang di Indonesia, yang menghubungan Kota Surabaya dengan Pulau Mad  ura, yakni jembatan Suramadu.(yra)

Rangkiang di Surabaya

Rumah Gadang di Surabaya

Dilengkapi Dua Rangkiang

Iqbal Miad bersama Dr.Sumarzen Marzuki dan Ir.Firdaus

Iqbal Miad bersama Dr.Sumarzen Marzuki dan Ir.Firdaus

Rumah Gadang

Rumah gadang nan sambilan ruang

Rangkiang baririk di halamannya

Bilo den kana maso nan dahulu

Tabayang-bayang di ruang mato

KENDATI hanya empat baris, namun dua bait di atas dinyanyikan dengan rancak sekali berulang dua kali oleh sekitar 100 orang. Mereka yang hadir pada upacara peletakan batu pertama pembangunan dua rangkiang di halaman rumahgadang Minangkabau di Jalan Gayung Kebonsari 64 Surabaya, semua ikut mengumandangkan “lagu wajib” ranah Minang itu.

Usai menyanyikan lagu itu secara bersama-sama, acara dibuka. Hari itu adalah hari Ahad, 15 Februari 2009, pagi. Mantan Gubernur Sumatera Barat, Ir.H.Azwar Anas sembari memegang tongkat, masih tetap bersemangat. Dulu tanggal 12 Juli tahun 1987, juga Azwar Anas yang meletakkan batu pertama pembangunan rumah gadang itu.

Ir.H.Azwar Anas saat akan meletakkan batu pertama pembangunan rangkiang

Ir.H.Azwar Anas saat akan meletakkan batu pertama pembangunan rangkiang

Nah, sekarang mantan menteri perhubungan ini meletakkan batu pertama lagi untuk pembangunan rangkiang di halam rumah gadang di Surabaya itu.

Ada dua rangkiang yang didirikan di halaman rumah gadang di Kota Pahlawan ini. Satu di sebelah kiri dan satu di bagian kanan.

Sesepuh Gebu (Gerakan Ekonomi dan Budaya) Minang yang juga mantan Menko Kesra itu, tidak sendiri datang ke Surabaya. Di samping H.Iqbal Miad,MBA adik kandung Ny.Mufidah Jusuf Kalla, juga Kepala Biro Administrasi Perantau Pemerintah Provinsi Sumatera Barat Drs.Dede Nuzul Putra,MSi dan Kabag Kerjasama Rantau Syahrazad Jamil,SH,MM, serta Ketua Dekopin Sumbar Drs.Sjamsurizal.

H.Iqbal datang ke Surabaya, mewakili uninya Mufidah Jusuf Kall, sebagai donatur yang menyumbangkan satu rangkiang, yaitu Rangkiang Situnjau Lauik. Satu rangkiang yaitu rangkiang Sibayau-bayau disumbang oleh Ketua Umum Gebu Minang Jawa Timur Ir.Firdaus.

Peletakan batu pertama, dilaksanakan di delapan tempat, masing-masing empat di tiap tonggak rangkiang. Secara bergantian, tokoh masyarakat Minang dan pengurus Gebu Minang Jatim meletakkan batu pertama pada tapak fondasi rangkiang tersebut.

H.Bahri Yamsik ketua Dewan Pendiri Yayasan Gebu Minang Jatim saat meletakkan batu pertama rangkiang

H.Bahri Yamsik ketua Dewan Pendiri Yayasan Gebu Minang Jatim saat meletakkan batu pertama rangkiang

Para tokoh itu, antara lain: H.Bahri Yamsik, H.Azwar Tamin, H.Amrizal Dt.Rangkayo Mulia, Dr.Ir.H.Sumarzen Marzuki, H.Syaf ffendi,SH, Dr.H.Syeferial Sabirin, Drs.H.Nansech Chatib, HM Yousri Nur Rajo Agam,SH, H.Marlius Barat St.Bagindo Ali, H.Anwar Mas’ud, Ir.Zulkifli Alwi, Ir.Eddy S.Djaharuddin, H.Junis Kalim, Drs.Zulyondri, H.Al Indra, Ny.Hj.Karlina Achiruddin, Hj.Srisusy Indaswati, Sjafri Matondang, Azir Azizchan dan yang lainnya.

Setelah peletakan batu pertama di delapan tapak bakal tonggak rangkiang itu, acara dilanjutkan dengan ceramah agama Islam oleh H.Azwar Anas. Setelah itu diselenggarakan pula dialog antara perantau Minang di Jatim dengan wakil Pemprov Sumbar yang mengurusi perantau.

Dede Nuzul Putra wakil dari Pemprov Sumbar

Dede Nuzul Putra wakil dari Pemprov Sumbar

Banyak informasi dari ranah Minang yang disampaikan oleh Dede Nuzul Putra bersama Sjahrazad Jamil dan Sjamsurizal. Sebaliknya, sekitar 100 warga Minang yang hadir di rumah gadang di Surabaya itu, memberikan informasi dari rantau. Bahkan ada pula yang mengkonfirmasikan laporan dari kampuang ke rantau untuk dijelaskan.

Rangkiang

Sebagaimana kita ketahui disetiap rumah gadang di ranah Minang, umumnya memiliki rangkiang. Seperti lagu yang dikumandangkan pada awal berita ini, biasanya rangkiang itu dibangun berderet (baririk) di halaman depan.

Konon Rangkiang berasal dari bahasa Sangskerta dari kata ruang hyang yaitu ruang untuk Dewi Sri, yaitu dewi padi. Jadi rangkiang adalah lumbung tempat menyimpan padi.

Sesuai dengan fungsinya Rangkiang itu ada tujuh macam, sesuai dengan jenis padi yang disimpan dalam rangkiang, yaitu:

  1. Si miskin pergi menunggu, lumbung untuk berhemat.
  2. Simajokayo, lumbung persiapan pesta.
  3. Mandah pahlawan (Rangkiang Kaciak), untuk menyimpan padi abuan (benih) dan persediaan dalam urusan pembiayaan pengerjaan sawah musim berikutnya. Rangkiang ini rendah, tidak bergonjong, dan ada kalanya berbentuk bundar.
  4. Sitinjau Lauik untuk menjamu tamu dan membeli barang kebutuhan yang tidak dapat diproduksi sendiri. Terdiri dari empat kolom dan sebuah ruang penyimpan padi.
  5. Si Bayau-bayau/lumbung Tuo Rumah/lumbung pusako, untuk makan sehari-hari. Berdiri di atas enam kolom, rangkiang ini memiliki dua buah ruangan.
  6. Si Tangguang Lapa, lumbung persiapan paceklik atau untuk orang yang membutuhkan.
  7. Harimau Paunyi Koto, lumbung raja.

Susunan Rangkiang dilihat dari jalan masuk adalah Sitinjau Lauik di sebelah kiri, Si Bayau-bayau di tengah, Si Tangguang Lapa sebelah kanan, sedangkan yang lain disela-sela ketiganya.

Bentuk Rangkiang hampir sama dengan rumah Gadang, atapnya bergonjong dengan kolong lebih rendah dari bangunan rumah gadang. Seluruh rangkiang tidak berjendela dan tidak berpintu. Hanya ada bukaan kecil di bagian atas dari salah satu segitiga lotengnya. Dindingnya mengembang ke atas. Terdapat tangga (mabu) untuk menaiki Rangkiang yang dapat di pindah-pindahkan untuk keperluan lain.

Spesifikasi fungsi rangkiang menunjukkan kekayaan masyarakat agraris Minang. Tak hanya melimpah-ruahnya hasil pertanian sehingga dapat dibagi-bagi pada banyak rangkiang, tetapi juga kekayaan hati mereka untuk membagi-baginya pada yang membutuhkan.

Sibayau-bayau merupakan lumbung berukuran besar karena padi yang disimpan di dalamnya dalam jumlah banyak, untuk dimakan bersama seluruh anggota keluarga sehari-hari. Di samping itu mereka juga menyediakan padi untuk tamu. Artinya, tamu adalah orang yang harus dimuliakan sehingga tuan rumah merasa wajib menjamu tamu. Sebagian hasil panen dipersembahkan juga untuk raja dan disimpan di lumbung raja.

Untuk menjaga kemungkinan buruk tibanya masa paceklik, mereka juga menyisihkan hasil panen demi ketahanan pangan jika saat itu tiba. Untuk kesinambungan pertanian, yang juga berarti kesinambungan kehidupan mereka menyediakan lumbung khusus untuk menyimpan padi sebagai benih.

Hal-hal di atas tak akan mungkin terjadi tanpa adanya kasih sayang antar sesama manusia, dan antara manusia dengan alam. Artinya, kasih sayang manusia terhadap alam dalam bentuk kebijaksanaan memperlakukan alam, membuat alam berkepemurahan memberikan hasil buminya. Kasih sayang antara anggota masyarakat mewujud dalam sifat kepemurahan untuk menyisihkan sebagian hasil panen bagi siapa saja yang membutuhkan. (Yousri Nur Raja Agam, MH dari berbagai sumber)

Dulu “Gerakan Seribu Minang”

Gebu


Minang


Yousri Nur RA  MH

Yousri Nur RA MH

Gerakan

Ekonomi dan Budaya

Bukan Organisasi Kesukuan

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

GEBU Minang, dulu merupakan singkatan dari “Gerakan Seribu Minang”. Tetapi, sekarang sudah berubah menjadi “Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang”. Jadi, keberadaan Gebu Minang sebagai suatu organisasi sosial kemasyarakat yang tersebar di berbagai kota di Indonesia, bukanlah gerakan kesukuan. Bukan merupakan organisasi yang bersifat ekslusif.

Gebu Minang awalnya adalah merupakan sebuah gerakan yang lahir dengan spontan. Waktu itu, di zaman pemerintahan Orde Baru. Tatkala Presiden Soeharto meresmikan Pekan Penghijauan Nasional tahun 1982 di Desa Aripan,Kabupaten Solok Sumatera Barat, diselenggarakan temuwicara antara petani dengan Pak Harto. Sebelum acara temuwicara dilaksanakan, panitia daerah melaporkan berbagai aktivitas petani dan masyarakat di Sumatera Barat, khususnya di Kabuten Solok.

Saat penyampaian laporan bupati Solok dan gubernur Sumatera Barat, terungkap tentang potensi wilayah Sumatera Barat. Di samping itu, disampaikan pula falsafah masyarakat Minangkabau tentang “Karatau madang di hulu, babuah babungo balu. Marantau bujang dahulu, di rumah paguno balun”.

Sepintas disebutkan bahwa pada umumnya anak muda yang ada di wilayah Sumatera Barat ini banyak yang merantau. Mereka pergi menuntut ilmu ke berbagai kota, bahkan banyak yang berada di Pulau Jawa, karena di kampung “baguno balun”. Artinya, di kampung halamannya belum berguna, karena belum berilmu dan mempunyai penghasilan. Oleh sebab itu, di samping menuntut ilmu mereka merantau juga untuk mencari rezeki dan kehidupan yang layak.

Kendati demikian, tidak sedikit dari mereka yang merantau, akhirnya menetap di perantauan. Walaupun demikian, umumnya setiap perantau di manapun mereka berada, tidak pernah melupakan kampung halamannya. Mereka selalu membantu dan memperhatikan sanak keluarga yang berada di kampung.

Pak Harto waktu itu kelihatan marfum dan manggut-manggut. Saat temuwicara dengan para petani, ada seorang anggota kelompok tani menyampaikan keluhannya. Dia menyampaikan permohonan kepada Presiden untuk diberi bantuan traktor dan alat-alat pertanian. Begitu pula, dengan kelompok tani yang lain. Nadanya sama, memohon bantuan untuk berbagai jenis Saprotan (Sarana Produksi Pertanian). Sebagaimana biasa, semua pertanyaan, pernyataan dan permintaan kelompok yang diajak temuwicara itu dicatat sendiri oleh Pak Harto yang didampingi beberapa menteri kabinet.

Tibalah saatnya, Pak Harto menjawab dan menyampaikan pernyataan. Presiden Soeharto mengatakan, sesuai dengan laporan bupati, gubernur dan berdasarkan kenyataan, sesungguhnya potensi Sumatera Barat atau Minangkabau amat besar. Di samping potensi alamnya, yang lebih hebat lagi adalah potensi para perantaunya, kata Pak Harto.

“Jika satu juta (1.000.000) saja orang Minang di rantau menyumbangkan seribu rupiah (Rp 1.000,00) tiap bulan, maka akan terkumpul dana pembangunan sebesar dua belas miliar rupiah (Rp 12 miliar) untuk Sumatera Barat dalam setahun”, ujar Pak Harto. “Saya kira itu gampang. Serahkan saja kepada para perantau dan beliau-beliau ini”, ujar Pak Harto sembari menunjuk beberapa menteri dan pengusaha yang hadir.

Memang, apa yang dikatakan Presiden Republik Indonesia waktu itu ada benarnya. Sebab, secara tradisional saja, uang yang dikirimkan orang di rantau ke kampung halaman di Sumatera Barat, tahun 1981, melalui kiriman weselpos saja mencapai Rp 50 miliar setahun. Belum lagi yang berupa uang kontan yang dikirim melalui lalulintas orang dan transaksi melalui perbankan.

Musyawarah Besar

Terinspirasi dari apa yang disampaikan Pak Harto itu, maka para tokoh Minang di perantauan, khususnya yang berada di pusat pemerintahan di Jakarta berinisiatif untuk mewujudkan gerakan penghimpunan dana dari perantau untuk pembangunan di Sumatera barat secara terkoordinasi.

Berbagai ide dan pendapat muncul. Sampai akhirnya disepakati istilah “seribu rupiah” yang diucapkan Pak Harto dari tiap perantau Minang itu, menjadi “Seribu Minang” atau Gerakan Seribu Minang yang disingkap menjadi “Gebu Minang”.

Di beberapa kota, melalui organisasi perantau Minang, ide yang disiarkan melalui mediamassa itu disambut secara spontan dan antusias. Sertamerta beberapa organisasi perantau itu melakukan kegiatan pengumpulan dana “Rp 1.000,-“ itu. Ada yang hitung per-kepala dan ada yang per-keluarga. Pokoknya, istilah Gebu Minang atau Gerakan Seribu Rupiah untuk warga Minang itu sudah tersebar luas.

Berbagai organisasi perantau muloai tingkat desa, kecamatan, kabupaten maupun yang sudah mencakup wilayah Sumatera Barat berinisiatif menghimpun dana perantau. Organisasinya beragam, ada yang bernama Ikatan Keluarga Minang (IKM), ada Minang Saiyo, Minang Sepakat atau Ikatan Saudagar Minang. Ada pula yang tingkat kabupaten, misalnya organisasi dari Padang Pariaman, Keluarga Kurai Bukittingg, Keluarga yang berasal dari Padang, Solok, Agam, Limapuluh Kota, Pasaman, karik-Barik dari Pesisir Selatan, dan sebagainya.

Ada pula organisasi tingkat kecamatan, seperti Ikatan keluarga Ampek Angkek, Ikatan Keluarga Banuhampu, Keluarga Sungaipua, Sulit Air, Silungkang, Painan, Lintau, Baso, Balingka, Koto Tuo, Alahan panjang, Maninjau, dan masih banyak lagi yang lain. Termasuk organisasi arisan ibu-ibu dan kelompok pengajian.

Langkah awal kegiatan penghimpunan dana yang cukup menggugah, ketika terjadi bencana alam gempa bumi di kampung. Banyak rumah yang hancur. Sumbangan yang diistilahkan Rp 1.000,- itu, sudah meluas menjadi beribu-ribu.

Gerakan spontanitas perantau itu, akhirnya dilaksanakan Musyawarah Besar (Mubes) perwakilan perantau Masyarakat Minang dari seluruh penjuru tanah air dengan yang berada di kampung, di Bukittinggi tanggal 24 Desember 1989.

Dari Mubes itu lah kemudian lahir organisasi yang disebut Lembaga Gebu Minang. Berdasarkan Mubes itu, disusun program kerja secara terpadu. Kegiatan Gebu Minang, tidak semata-mata menghimpun dana Rp 1.000,- tiap kepala dari para perantau Minang, tetapi juga melakukan kegiatan lain. Sekurang-kurangnya dengan adanya gerakan ini, terbentuklah lembaga resmi yang melakukan aktivitas tersebut.

Secara nasional, di Jakarta, pengurus Gebu Minang berhasil menghimpun dana untuk mendirikan Badan Perkreditan rakyat (BPR) di beberapa kecamatan di Sumatera Barat. Tidak hanya itu, kegiatan peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia) dalam bentuk pelatihan kewiraswastaan dan pembinaan UKM (Usaha Kecil dan Menengah) juga terlaksana.

Ternyata, pada awal kegiatan Gebu Minang ini terjadi krisis ekonomi dan keuangan. Waktu itu, Pemerintah sampai mengeluarkan kebijakan ekonomi yang disebut Paket Oktober (Pakto) 1988. Kebijakan itu adalah memberi kesempatan dalam bidang permodalan bagi UKM dengan memperbanyak BPR.

Bak kata pepatah, “gayung bersambut”, para ekonom asal Minang di perantauan melakukan terobosan-terobosan yang cukup mengena. Dalam waktu singkat, jumlah BPR yang didirikan di wilayah Sumbar yang berasal dari dana Gebu Minang itu mencapai 24 BPR ti tingkat kecamatan. Begitulah seterusnya, hingga kemudian di beberapa daerah lahir Lembaga Gebu Minang. Ada yang berkoordinasi dengan Gebu Minang di Jakarta, ada pula yang berdiri sendiri.

Di Jawa Timur, pada awalnya berdiri sendiri dengan AD/ART (Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga) sendiri. Namun setelah Mubes III tahun 2001, Gebu Minang Jatim mulai melakukan koordinasi.

Kegiatan pembangunan Rumah Gadang di Surabaya oleh IKM (Ikatan Keluarga Minang) Jatim, sejak tahun 1987, akhirnya dilimpahkan kepada organisasi baru yang bernama Lembaga Gebu Minang hasil Musda (Musyawarah Daerah) Gebu Minang Jatim yang diselenggarakan tanggal 18 Oktober 1998 di Surabaya. (Baca: laporan khusus Pembangunan Rumah Gadang “Minangkabau” di Surabaya).

Demikian informasi awal tentang Gebu Minang. Kepanjangannya “Gebu” berubah menjadi Gerakan Ekonomi dan Budaya. Jadi Gebu tidak lagi sebagai singkatan Gerakan Seribu. Gebu Minang sekarang adalah “Gerakan Ekonomi dan Budaya Minang”. Secara tegas pula dinyatakan, bahwa Gebu Minang bukan organisasi kesukuan, tetapi adalah gerakan di bidang ekonomi dan budaya Nusantara ala atau versi Minang. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – adalah Ketua (Bidang Humas dan Infokom) Gebu Minang Jatim

———

FOTO-FOTO KEGIATAN DI RUMAH GADANG

JALAN GAYUNG KEBUNSARI 64 SURABAYA:

Ketua Umum Gebu Minang Pusat Mayjen TNI (Purn) Asril Tanjung dengan Ketua Yayasan Gebu Minang Jatim H.Amrizal Zain Dt.Rangkayo Mulia

Ketua Umum Gebu Minang Pusat Mayjen TNI (Purn) Asril Tanjung dengan Ketua Yayasan Gebu Minang Jatim H.Amrizal Zain Dt.Rangkayo Mulia

Tari gelombang saat menyambut kedatangan Walikota Padang dan Ketua mum Gebu Minang Pusat di Surabaya

Tari gelombang saat menyambut kedatangan Walikota Padang dan Ketua mum Gebu Minang Pusat di Surabaya

Ketua MUI Sumbar H.Gusrizal bersama Ketua Gebu Minang Jatim, Ir.Firdaus di depan rumahgadang Surabaya.

Ketua MUI Sumbar H.Gusrizal bersama Ketua Gebu Minang Jatim, Ir.Firdaus di depan rumahgadang Surabaya.

Walikota Padang H.Fauzi Bahar jo Wk.Ketua Gebu Minang Jatim HM Yousri Nur Raja Agam

Walikota Padang H.Fauzi Bahar jo Wk.Ketua Gebu Minang Jatim HM Yousri Nur Raja Agam

Walikota Padang H.Fauzi Bahar dengan Azir Azizschan anak Walikota Padang pertama Bagindo Azischan (alm)

Walikota Padang H.Fauzi Bahar dengan Azir Azizschan anak Walikota Padang pertama Bagindo Azischan (alm)


Pengurus Gebu Minang Jatim masabakti 2007-2012

Pengurus Gebu Minang Jatim masabakti 2007-2012

Walikota Surabaya H.Bambang Dwi Hartono bersama Pengurus Gebu Minang Jatim saat berada di depan rumah dinas walikota Surabaya

Walikota Surabaya H.Bambang Dwi Hartono bersama Pengurus Gebu Minang Jatim saat berada di depan rumah dinas walikota Surabaya

Masyarakat Jawa Timur asal Minang saat mengikuti pengajian di Rumahgadang Minangkabau di Surabaya

Masyarakat Jawa Timur asal Minang saat mengikuti pengajian di Rumahgadang Minangkabau di Surabaya

ASSALAMU’ALAIKUM

Alhamdulillah, kami mencoba menyediakan media komunikasi antarwarga perantauan Minang yang berada di Jawa Timur dengan siapa saja yang membaca blok GebuMinangJatim ini.

Blog GebuMinangJatim ini, memang merupakan persembahan awal dari kami untuk kita-kita semua. Tetapi, kami yakin anda para dunsanak nan mambaco tulisan jo mancaliak foto-foto nan tapambang di Blog iko belum puas. Mungkin ado nan kato orang Suroboyo “nggrundel” atau mengomel. Tidak apa-apa, maaf karena ini memang blog yang kami kelola secara pribadi, tetapi berfungsi untuak kepentingan orang banyak.

Sudah lama kami merencanakan membuat webbside sendiri. Kami sudah sepakat akan mengelola secara profesional. Namun, karena ini organisasi sosial kemasyarakatan yang tidak komersial, maka kami buat untuk sementara berupa blog yang “gratis” ini.

InsyaAllah, kalau bisuak ado dunsanak awak nan tabuka pangananya untuk manyadiokan pitih ketek nan agak banyak, tantu kami akan mengelolanyo secara profesional. Kini blog iko kami sajikan sacaro sederhana dan karajo tasambia sajo.

Nah, kalau boleh saya mengatakan, blog ini bersifat amatir dan kami mengharapkan ada yang menjadi sponsor dan donatur tetap, baik sukarela maupun menyediakan dana berupa iklan, maka kami akan membuat media khusus berupa Webbside “GebuMinangJatim.Com”.

Kami tunggu naskah berupa tulisan, artikel dan kaba dari rantau jo dari kampuang. K Mohon bisa disertai foto dan jatidiri (identitas) pengirim yang jelas. Kirim ke e-Mail kami http://www.aksaragrafika@yahoo.co.id.

Sekian dan terimakasih untuk sekedar pengantar awal dari kami.

Mohon maaaf dan salam dari dunia maya (internet).

Ikolah Rumah Gadang Minangkabau yang terletak di Jalan Gayung Kebonsari 64 di Surabaya, sebagai markas tampaik batamu urang awak di Jawa Timur. Saat ini pembangunannya memasuki tahap penyelesaian akhir berupa pemasangan ukir-ukiran yang akan ditempel di dinding . Selain itu juga akan dibangun dua rangkiang di halaman medan nan bapaneh, serta kelengkapan lain. nantinya, rumah gadang awak ini akan berfungsi pula sebagai sanggar budaya Nusantara. Di belakang samping barat rumah gadang ini ada surau bagonjong tempat shalat jo mangaji. (yousfoto)

Ikolah Rumah Gadang Minangkabau yang terletak di Jalan Gayung Kebonsari 64 di Surabaya, sebagai markas tampaik batamu urang awak di Jawa Timur. Saat ini pembangunannya memasuki tahap penyelesaian akhir berupa pemasangan ukir-ukiran yang akan ditempel di dinding . Selain itu juga akan dibangun dua rangkiang di halaman medan nan bapaneh, serta kelengkapan lain. nantinya, rumah gadang awak ini akan berfungsi pula sebagai sanggar budaya Nusantara. Di belakang samping barat rumah gadang ini ada surau bagonjong tempat shalat jo mangaji. (yousfoto)

Hello world!

Surabaya

Kota Multijuluk

Oleh: Yousri Nur Raja Agam MH *)

Yousri Nur RA MH

Yousri Nur RA MH

KOTA PAHLAWAN, adalah julukan utama bagi Kota Surabaya. Julukan ini dipersembahkankan langsung oleh Presiden pertama Republik Indonesia, Ir.H.Soekarno, tanggal 10 November 1950. Penganugerahan julukan atau predikat Kota Pahlawan untuk Kota Surabaya merupakan wujud dan bukti sejarah “kepahlawanan Arek-arek Suroboyo” dalam kancah perjuangan heroik 10 November 1945.

Sebagai bukti monumental untuk mengabadikan Surabaya sebagai Kota Pahlawan, di kota ini didirikan Tugu Pahlawan. Rancangan bentuk tugu pahlawan dan peletakan batu pertama pembangunan, serta peresmian Tugu Pahlawandi Surabaya ini juga dilakukan langsung oleh Presiden RI, Ir.H.Soekarno.

Kota Surabaya memang multijuluk atau banyak julukan. Di samping Kota Pahlawan, Surabaya yang merupakan ibukota Provinsi Jawa Timur ini juga berjuluk:

  1. Kota Indamardi.
  2. Kota Budi Pamarinda.
  3. Kota Adipura Kencana.
  4. Kota Metropolitan atau Metropolis.
  5. Kota Kemilau (Sparkling).
  6. Kota Perdagangan dan Jasa.
  7. Gerbang Indonesia dari Timur.
  8. Kota Reliji Sunan Ampel.
  9. Kota Raya Terbesar Kedua setelah Jakarta.
  10. Pusat Pengembangan Wilayah Pembangunan Regional Gerbang Kertosusila.
  11. Pusat Pengembangan Wilayah Pembangunan Utama C (Bagian Tengah dan Timur) Indonesia

Memang, Surabaya penah menggunakan julukan ouoular Kota Indamardi. Singkatan dari: Industri (in), Perdagangan (da), Maritim (mar) dan Pendidikan (di). Singkatan Indamardi kemudian diubah lagi menjadi Budi Pamarinda, kepanjangannya: Budaya (bu), Pendidikan (di), Pariwisata (pa), Maritim (mar), Industri (in) dan Perdagangan (da). Jadi, antara Indamardi dengan Budi Pamarinda sebenarnya sama. Di sini ada penekanan Budaya dan Pariwisata, sehingga kedudukan budaya dan pariwisata di Kota Surabaya, sejajar dengan Indamardi.

Sebelumnya sektor kebudayaan hanya dijadikan sebagai bagian dari pendidikan. Masalah budaya di Surabaya mungkin banyak yang terabaikan, sehingga diperlukan adanya penekanan pada kata budaya. Adanya penonjolan kata budaya dalam selogan kota ini, maka unsur budaya perlu digali lebih mendalam dan dikembangkan.

Begitu pula halnya dengan pariwisata, selama ini dunia usaha kepariwisataan di Surabaya dijadikan atau dianggap sebagai bagian dari industri, yakni industri jasa kepariwisataan. Namun, berdasarkan pandangan dan kacamata orang pariwisata, kegiatan kepariwisataan merupakan disiplin ilmu tersendiri yang mencakup berbagai aspek.

Tidak hanya Budaya dan Pariwisata yang dijadikan pelengkap julukan Kota Surabaya, tetapi juga kata “Garnizun”. Sehingga pernah pula diusulkan julukan tambahan Surabaya dari Indamardi, menjadi Indamardi Garpar (Garnizun dan Pariwisata). Pengertian Garnizun, menyatakan bahwa di Kota Surabaya ini lengkap dengan seluruh kesatuan militer. Namun Indamardi Garpar itu kurang popular.

Dengan julukan Kota Indamardi dan Pamarinda itu saja, bila diurai, maka Surabaya akan berjuluk:

1) Kota Budaya.

2) Kota Pendidikan.

3) Kota Pariwisata.

4) Kota Maritim.

5) Kota Industri.

6) Kota Perdagangan.

Di kota Surabaya ini terdapat pangkalan dan kegiatan operasional TNI (Tentara Nasional Indonesia), yakni: TNI- AD (Angkatan Darat), TNI-AL (Angkatan Laut) dan TNI-AU (Angkatan Udara), serta Kepolisian Republik Indonesia (Polri). Dulu Garnizun itu adalah penggabungan kegiatan dan kordinasi antara kesatuan TNI dan Polri yang disebut ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia) di Surabaya dan sekitarnya. Tetapi, setelah sebutan ABRI dihapus dan Polri sudah menjadi instansi sipil, maka Garnizun sekarang ini hanya tiga angkatan TNI. Sebutannya Gartap (Garnizun Tetap) Surabaya.

Surabaya juga berjuluk kota Adipura Kencana. Julukan yang pernah disandang kota Surabaya pada tahun 1980-an hingga akhir 1990-an. Adipura Kencana adalah sebuah predikat untuk kota terbersih di Nusantara. Pada tahun 1992, 1993 dan 1995, Surabaya pernah mendapat anugerah piala ”Adipura Kencana” dari Pemerintah Pusat sebagai Kota Raya “terbersih” di Indonesia.

Sebelum memperoleh Adipura Kencana, Sura-baya memperoleh piala Adipura lima kali berturut-turut tahun 1988, 1989, 1990 dan 1991. Predikat kota raya terbersih bertahan hingga tahun 1998. Tetapi, status Surabaya sebagai kota raya terbersih di Indonesia, sempat merosot tajam di awal tahun 2000-an. Namun sejak tahun 2006, julukan Surabaya sebagai kota raya terbersih kembali terangkat. Tahun 2007 hingga sekarang, Kota Surabaya bukan hanya berjuluk kota terbersih, tetapi juga kota terindah dan hijau. Bahkan, kalau boleh ditambah satu julukan lagi, kini Surabaya adalah “Kota Sejuta Taman”. Bukan seribu atau sekian ratus ribu taman, tetapi mencapai sejuta taman. Hampir tak ada lagi lahan kosong dalam kota yang tidak dijadikan taman.

Sudah lama pula Surabaya menyandang predikat atau julukan Kota Metropolitan atau Kota Metropolis. Artinya, kota besar yang ramai dan penduduknya yang padat. Selain itu, kota ini dibangun dan dikembangkan menuju kota modern. Tidak dapat disangkal, Surabaya memang kota yang cukup besar. Luas Surabaya mencapai 330 kilometer per-segi, berpenduduk 3 juta jiwa lebih. Pemerintahannya sampai tahun 2009 dibagi menjadi 31 kecamatan dan 163 kelurahan.

Selain itu, kalau diamati lagi perkembangan dari dulu hingga sekarang, Surabaya juga tidak lepas dari peran dan keberadaan Sunan Ampel di Surabaya. Maka, tidak salah kalau dari luar Surabaya orang mengenal Surabaya sebagai Kota Sunan Ampel. Tempat hijrahnya Sunan Ampel, serta kota tempat Sunan Ampel menyebarkan agama Islam di Pulau Jawa bersama Walisongo (wali sembilan). Sunan Ampel adalah wali yang dituakan di antara sembilan wali itu.

Sehingga, kegiatan ziarah yang disebut juga wisata reliji Walisongo selalu diawali dari Surabaya sebelum menuju ke Gresik, Lamongan, Tuban, lalu ke Gunung Muria, Kudus dan Demak di Jawa Tengah, serta berakhir di Cirebon Jawa Barat. Maka tidak salah, kalau para pelaku ziarah Walisongo menjuluki Surabaya sebagai Kota Reliji Sunan Ampel.

Dari zaman dahulu, Surabaya juga dijuluki sebagai “Gerbang Indonesia dari Timur”. Sebab, setiap orang yang akan menuju ke pusat pemerintahan mulai dari masa kerajaan Singosari, Majapahit, Mataram hingga Pemerintahan Indonesia merdeka, dengan ibukota Jakarta dan Jogjakarta, maka pintu masuk atau gerbang dari arah timur adalah Surabaya. Hampir seluruh jenis pelayaran dari wilayah Indonesia Timur, selalu berlabuh di Tanjung Perak Surabaya.

Yang tidak bisa dilupakan, Kota Surabaya adalah ibukota provinsi Jawa Timur. Pusat segala kegiatan yang berkaitan provinsi Jawa Timur dengan 38 kabupaten dan kota, yakni 29 kabupaten dan 9 kota.

Pada era Orde Baru pembangunan direncanakan secara terpadu dalam tahap-tahap Pelita (Pembangunan Lima Tahun) demi Pelita. Kota Surabaya berperan sebagai Pusat Pengembangan Wilayah V dan kemudian disebut pusat Satuan Wilayah Pembangunan Utama (SWPU) C yang terdiri dari Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan, Selatan dan Kalimantan Timur.

Masa pemerintahan Orde Baru itu, kegiatan pembangunan nasional berencana juga dirancang secara regional di Jawa Timur. Surabaya ditetapkan sebagai pusat pengembangan Satuan Wilayah Pembangunan (SWP) Gerbang Kertosusila singkatan dari Gresik (Ger), Bangkalan (bang), Mojokerto (kerto), Surabaya (su), Sidoarjo (si), Lamongan (la).

Surabaya sebagai adalah kota yang strategis juga mendapat pengakuan dengan julukan “Kota Terbesar Kedua di Indonesia setelah Jakarta” atau “Kota Raya kedua setelah Jakarta”. Dalam penilaian dan kategori, misalnya dalam penilaian bidang kebersihan, lalulintas, keamanan, pembangunan dan sebagainya, Surabaya disebut sebagai Kota Raya.

Nah, tentu masih ada julukan yang lain. Baik yang pernah diberikan sebelumnya, maupun julukan yang bakal diterima di kemudian hari.

Kendati sebelumnya sudah dijabarkan julukan Surabaya kebanggan bagi Arek-arek Suroboyo itu sesuai dengan peran dan keberadaannya, namun pada tahun 2006, semua julukan yang memberikan kekhasan Surabaya itu menjadi sirna. Pemerintah Kota Surabaya mempromosikan Surabaya ke dunia luar “hanya” sebagai Kota Perdagangan dan Jasa. Kemudian entah dengan makna apa, Surabaya diberi lebel asing “Sparkling”.

Kata Sparkling ini dalam kamus Inggris-Indonesia, berasal dari kata dasar sparkle (dibaca: spa:kel) artinya kilau. Untuk kata kilau ini juga ada bahasa Inggris lainnya, yakni: glitter atau glite dan glisten, serta gleaming dan splendour. Pokoknya persamaannya cukup banyak.

Nah, kira-kira secara harfiah, Sparkling Surabaya itu artinya: Surabaya Berkilau, Surabaya Berkilau-kilau, Surabaya Berkilau-kilauan, Surabaya Kemilau, Surabaya Cemerlang, Surabaya Gemerlap, Surabaya Gemerlapan, Surabaya Berkilap atau gampangnya orang Surabaya menyebut artinya “Surabaya Cingklong”.

Kota Pahlawan

Apabila digali aktivitas yang ada di Kota Surabaya ini, tidak terlepas dari semua julukan itu. Namun, julukan sebagai “Kota Pahlawan” dinilai paling istimewa. Sebab, tidak ada kota di Indonesia ini yang dijuluki “Kota Pahlawan”, kendati hampir seluruh kota di Indonesia mempunyai semangat heroik dan perjuangan kepahlawanan.

Untuk itulah, seyogyanya para petinggi dan masyarakat Kota Pahlawan ini benar-benar menghayati arti dari julukan itu. Pengertian kepahlawanan di Kota Pahlawan Surabaya ini seharusnya tercermin dalam berbagai hal. Baik ciri, penampilan yang khas, serta watak dan wujud nyata dari kota ini. Artinya, saat memasuki Kota Surabaya, kesan pertama bagi orang yang belum pernah ke Surabaya, adalah adanya rasa atau nuansa kepahlawanan itu.

Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa predikat Kota Pahlawan dianugerahkan kepada Kota Surabaya, untuk mengabadikan “Semangat Juang Arek-Arek Suroboyo”. Tidak hanya berawal dari peristiwa heroik sekitar 10 November 1945 saja, tetapi dikaitkan dengan sejarah terbentuknya ranah perkampungan Surabaya, hingga masa perjuangan dan mempertahankan, serta mengisi kemerdekaan Republik Indonesia itu sendiri. Artinya, semangat juang Arek Suroboyo itu dipertahankan sepanjang masa, sejak dari dulu, hingga kini dan sampai nanti.

Sebenarnya itulah hakekat yang diinginkan oleh Dwitunggal Proklamator Kemerdekaan Republik Indo-nesia, Soekarno-Hatta. Mereka berdua, sebagai saksi sejarah tentang semangat kepahlawanan Arek-arek Suroboyo (Putra-Putra Surabaya) dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia di tahun 1945.

Bung Karno juga terkesan dengan peristiwa perobekan bendera di Hotel Orange atau Hotel Yamato di Jalan Tunjungan yang dikenal dengan “insiden bendera” tanggal 19 September 1945. Apalagi sejak saat itu, kegiatan perlawanan masyarakat Surabaya terhadap penjajah dan kaum kolonial semakin hebat dan gigih, maka tak pelak lagi Bung Karno dan Bung Hatta, langsung datang ke Surabaya. Hingga terjadi puncak perjuangan Arek Suroboyo, tanggal 10 November 1945.

Lima tahun kemudian, kesan Bung Karno terhadap Surabaya semakin mendalam. Ide pembangunan Tugu Pahlawan di Kota Surabaya, langsung mendapat perhatian Bung Karno. Untuk pertama kali di tahun 1950, Bung Karno menetapkan tanggal 10 November sebagai “Hari Pahlawan”. Sekaligus, Surabaya mendapat predikat “Kota Pahlawan”.

Kamus Kepahlawanan

Julukan sebagai Kota Pahlawan, juga dikaitkan dengan sejarah Surabaya. Sewaktu tahun 1293, lebih 716 tahun atau tujuh abad yang silam, Raden Wijaya pendiri Kerajaan Majapahit berjuang mengusir Tentara Tartar yang dipimpin Khu Bilai Khan, tidak lepas dari peranserta rakyat Surabaya yang waktu itu masih bernama Hujunggaluh atau Junggaluh.

Nah, karena semangat kepahlawanan sudah menjadi ciri Kota Surabaya, perlu dilakukan koreksi total, sehingga julukan Kota Pahlawan bagi Surabaya tidak ditelan oleh kehidupan masyarakat modern. Peninggalan sejarah tentang kepahlawanan Arek Suroboyo ini patut dilestarikan.

Untuk itulah, layak pula Kota Surabaya dijadikan “kamus kepahlawanan”. Dengan berjuluk Kota Pahlawan, maka dunia dapat merujuk arti dan makna kepahlawanan dari Surabaya secara utuh. Misalnya, jika kita ingin mengetahui siapa-siapa saja Pahlawan Nasional, bahkan “pahlawan dunia”, maupun pahlawan lokal dan orang-orang yang berjasa, serta tokoh terkenal, maka nama itu ada dan diabadikan di Surabaya.

Museum pahlawan yang terdapat di Taman Tugu Pahlawan, maupun Museum Mpu Tantular di Surabaya yang sekarang dipindahkan ke Sidoarjo belum banyak berbicara tentang sejarah kepahlawanan Surabaya sebagai Kota Pahlawan. Untuk itu, perlu disempurnakan dan lebih dilengkapi dengan berbagai koleksi sejarah.

Tidak ada salahnya, Kota pahlawan Surabaya ini membudayakan “Wisata Pahlawan”, ke Taman Makam Pahlawan (TMP) dalam bentuk ziarah (wisata reliji), sebagaimana juga kita melakukan ziarah ke makam Sunan Ampel dan makam leluhur. ***

*) Yousri Nur Raja Agam MH – adalah “urang awak” – Ketua Yayasan Peduli Surabaya

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!